[REVIEW] Surat untuk Ruth

Cover depan & belakang (source: bisikanbusuk.com)

Cover depan & belakang (source: bisikanbusuk.com)

Awalnya, saya agak ragu membeli Surat untuk Ruth saat melihat novel ini berjejer di rak toko buku langganan. Sebab, belakangan saya sering keluar toko buku, menenteng maksimal 2 buku di tangan, namun sesampainya di rumah, tidak ada satupun dari buku – buku itu yang selesai dibaca. Padahal kualitas cerita buku yang saya beli sebenarnya cukup bagus. Tapi entah kenapa saya hilang hasrat menuntaskannya hingga halaman terakhir. Mood membaca saya turun drastis tanpa sebab yang jelas. Saya jadi khawatir, Surat untuk Ruth akan bernasib sama seperti buku – buku yang saya beli beberapa bulan terakhir. Tapi toh saya tetap membeli novel ini, disertai prasangka baik, semoga novel ini bisa tuntas dibaca.

Nyatanya, Surat untuk Ruth sukses mengembalikan mood membaca saya ke titik normal :’) Novel setebal 165 halaman ini selesai dalam 2 hari walau sebenarnya bisa selesai dalam 6 saja kalau malam itu saya niat begadang :p.

Secara garis besar, Surat untuk Ruth bercerita tentang Are dan Ruth yang meski saling mencinta namun pada akhirnya tidak bisa bersama. Seperti yang sudah terlihat dari judulnya, novel ini menampilkan kumpulan surat yang ditulis Are untuk Ruth tentang kisah cinta mereka, dari awal bertemu hingga perpisahan keduanya. Dengan konsep cerita seperti ini, mau tidak mau saya jadi teringat dengan novel Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya karya Dewi Kharisma Michellia yang menjadi novel unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012.

Lalu apa yang membuat novel ini menarik hingga saya bisa tuntas membacanya? Pertama tentu saja adalah cerita di halaman pertama. Buat saya, halaman pertama sebuah novel adalah bagian terpenting untuk menarik minat pembaca. Menghadirkan tokoh – tokohnya lewat sebuah percakapan dan tidak terlalu banyak deskripsi di awal, @benzbara_ berhasil membuat saya penasaran dengan cerita pada halaman – halaman berikutnya dari novel ini. Surat untuk Ruth juga menyuguhkan banyak kutipan menarik, salah satunya seperti ini:

Di saat lelah dan tidak lagi hendak meneruskan pencarian, terkadang kita justru diberi kejutan: sebuah penemuan yang lebih menyenangkan.

Selain itu, alur ceritanya tidak membosankan meski di akhir saya agak bertanya – tanya, bagaimana orang yang sudah meninggal masih bisa berkirim surat pada orang yang masih hidup? –”

Terlepas dari akhir cerita yang agak janggal, menurut saya, novel ini layak mendapat bintang 4. Sebenarnya, Surat untuk Ruth adalah novel @benzbara_ yang pertama saya baca. Sebelumnya, saya lebih sering membaca cerpen – cerpen @benzbara_ di blog bisikanbusuk.com dan menonton film Kata Hati yang diadaptasi dari novelnya. Namun, setelah membaca Surat untuk Ruth, rasanya berburu karya @benzbara_ yang lain patut menjadi pertimbangan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s